Kamis, Februari 10, 2011

Nommensen dan Peradaban Batak




        Berbicara tentang peradaban Batak, barangkali akan lain ceritanya jika Dr. Ingwer Ludwig Nommensen tidak pernah menginjakkan kakinya di Tanah Batak. Siapakah dia dan mengapa ia dijuluki sebagai “Apostel Batak"
         
Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu untuk melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan. Maka tak heran, suatu kali dalam sidang zending di Barmen, ketika utusan Denmark dan Jerman mengklaim bahwa Nommensen adalah warga negara mereka, Pendeta Dr. Justin Sihombing yang hadir waktu itu justru bersikeras mengatakan bahwa Nommensen adalah orang Batak.
Nommensen muda, ketika genap berusia 28 tahun telah hijrah meninggalkan Nordstrand dan hidup di Tanah Batak hingga akhir hayatnya dalam usia 84 tahun.

Nommensen
Masa mudanya, ia lewati dengan menjalani pendidikan teologia (1857-1861) di Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG) Barmen, setelah menerima sidi pada hari Minggu Palmarum 1849, ketika berusia 15 tahun. Sebenarnya, kedatangan penginjil-penginjil Eropa ke Tanah Batak pun sudah dimulai sejak 1820-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua penginjil: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Animisme masih kuat dalam kehidupan suku Batak.

           Sepuluh tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman pun tiba di Silindung. Tapi, mereka malah mendapati ajalnya di sana setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar Tarutung. Pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 20 kilometer dari Kota Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.

Impian dari kesederhanaan

         Impian Nommensen untuk menjadi penginjil sudah muncul sejak kecil, meski pada pada masa-masa itu ia sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam kesederhanaan itu, disebabkan orangtuanya yang tunakarya dan sering sakit-sakitan, ia bahkan sering kelaparan karena tidak punya makanan sehingga terpaksa mencari sisa-sisa makanan di rumah-rumah orang kaya bersama teman-temannya. Maka, sejak usia 8 tahun pun ia sudah menjadi gembala upahan hingga umur 10 tahun.

        Tapi, rintangan tak luput menghambat cita-cita mulia itu. Sekali waktu, ketika berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan ketika berkejar-kejaran dengan temannya dan tertabrak kereta kuda sehingga membuat kakinya lumpuh. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain.

Ketika dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya diamputasi, ia menolak dan meminta agar didoakan oleh ibunya dengan syarat, jika doa itu terkabul maka ia akan memberitakan injil kepada orang yang belum mengenal Kristus. Tak lama kemudian doa itu terkabul, ia pun sembuh.

Pada 1853, dengan keputusan yang matang, berbekal sepatu dan pakaian seadanya, ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-cita dan janjinya itu, yang juga sempat tertunda karena gagal menjadi kolesi di pelabuhan Wick. Ia kemudian bertemu dengan Hainsen, mantan gurunya di Boldixum. Hainsen lalu mempekerjakannya sebagai guru pembantu di Tonderm setelah beberapa waktu menjadi koster. Di sinilah ia bertemu dengan Pendeta Hausted dan mengungkapkan cita-citanya itu. Ia pun melamar di Lembaga Pekabaran Injil Rhein atau RMG Barmen.

Nommensen lalu mematangkan pengetahuannya tentang injil dengan kuliah teologia pada 1857, ketika berusia 23 tahun. Pada masa itu, pekerjaan sebagai tukang sapu, pekerja kebun dan juru tulis sekolah, turut disambinya, hingga ia lulus dan ditahbiskan menjadi pendeta pada 13 Oktober1861, yang kemudian membawanya ke Tanah Batak pada 23 Juni 1862.


Dari Norsdtrand ke Silindung

Nommensen, yang kini tetap dikenang dan dipanggil dengan gelar kehormatan “Ompu I, Apostel Batak”, dalam perjalanan misi zendingnya bukanlah tanpa rintangan. Bahkan, dalam beberapa
kali ia pernah akan dibunuh dengan cara menyembelih dan meracunnya. Alasannya, ia dicurigai sebagai mata-mata
 “si bottar mata” (stereotip ini ditujukan kepada Belanda).

Tapi ia tidak takut sebab janjinya kepada Tuhan harus dipenuhi. Sekali waktu ia pun berkata, ”Tidak mungkin, seujung rambut pun tidak akan bisa diambil kalau tidak atas kehendak Allah.”

Sebelumnya, setelah resmi diutus dari RMG Barmen ia terlebih dahulu menemui Dr. H. N. Van
der Tuuk, yang sebelumnya pada 1849 telah diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari Bahasa Batak.

Setelah  mendapatkan informasi lebih jauh tentang Batak, maka pada 24 Desember 1861 ia pun berangkat dengan kapal “Partinax” menuju Sumatra dan tiba di Padang pada 16 Mei 1862.
Dari sana ia kemudian meneruskan perjalanannya ke Barus melalui Sibolga.

Di sinilah pertama kali ia bertemu langsung dengan orang Batak kemudian mempelajari bahasa dan adatnya. Hanya saja, ia tak lama di sana. Selain karena sudah masukya agama Lain, ia melihat adanya nilai pluraritas antar suku yang sudah menyatu di sana: Toba, Angkola, Melayu, Pesisir.

Maka, setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia pun memutuskan untuk pergi ke daerah lain: Sipirok. Lalu, atas keputusan rapat pendeta yang ke-2 pada 7 Oktober 1862 di Sipirok (setelah sebelumnya melayani penduduk di Parau Sorat, dan mendirikan gereja yang pertama di sana), pergilah ia menuju wilayah perkampungan Batak yang dikenal dengan Silindung.

Di sana, suatu kali di puncak (dolok) Siatas Barita (sekarang puncak Taman Wisata Rohani Salib Kasih, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara), Nommensen pernah hendak dibunuh. Waktu itu sedang berlangsung ritual penyembahan kepada Sombaon Siatas Barita, ialah roh alam yang disembah orang Batak. Kerbau pun disembelih. Akan tetapi, pemimpin ritual (Sibaso) tidak menyukainya dan menyuruh pengikutnya untuk membunuhnya.

Lalu, kata Nommensen kepada mereka, “Roh yang berbicara kepada Sibaso bukanlah roh Siatas Barita, nenek moyangmu, melainkan roh setan. Nenek moyangmu tidak mungkin menuntut darah salah satu keturunannya.” Sibaso jatuh tersungkur dan mereka tidak mengganggunya lagi.

Setelah berhasil menjalin persahabatan dengan raja-raja yang paling berpengaruh di Silindung: Raja Amandari dan Raja Pontas Lumban Tobing, maka pada 29 Mei 1864, Nommensen mendirikan gereja di Huta Dame, sekitar Desa Sait ni Huta, Tarutung. Kemudian atas tawaran Raja Pontas, maka turut didirikan jemaat di Desa Pearaja, yang kini menjadi pusat gereja HKBP.

Setelah itu ia pergi ke Humbang dan tiba di Desa Huta Ginjang. Kemudian pada 1876 ia berangkat ke Toba ditemani Pendeta Johannsen dan sampai di Balige. Tetapi, akibat situasi yang gawat waktu itu, ketika pertempuran antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda sedang terjadi, mereka pun menangguhkan perjalanan dan kembali ke Silindung.

Pada 1886 Nommensen kembali ke Toba (Laguboti dan Sigumpar), setelah pada 1881 Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba dan berhasil menyebarkan injil di sana. Misi kedua pendeta ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Bonn yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.

Pendeta Boon pindah dari Sigumpar ke Pangaloan dan Nommensen menggantikan tugasnya. Sepeninggalan Boon, Nommensen mendapat rintangan di mana sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah. Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian dan tempat tinggalnya di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut dengan “pargodungan”, yang menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di Tanah Batak.

Dari Sigumpar, Nommensen bersama beberapa pendeta lainnya melanjutkan zending dengan menaiki “solu” (perahu) melintasi Danau Toba yang dikaguminya menuju Pulau Samosir.
Maka, pada 1893 Pendeta J. Warneck pun tiba di Nainggolan, 1898 Pendeta Fiise di Palipi, 1911 Pendeta Lotz di Pangururan dan 1914 Pendeta Bregenstroth di Ambarita.

Misi zending tak berhenti sampai di sana. Nommensen lalu mengajukan permohonan kepada RMG Barmen agar misinya diperluas hingga wilayah Simalungun. Permohonan itu ditanggapi dengan mengutus Pendeta Simon, Pendeta Guillaume dan Pendeta Meisel menuju Sigumpar pada 16 Maret 1903. Dari sana mereka pergi ke Tiga Langgiung, Purba, Sibuha-buhar, Sirongit, Bangun Purba, Tanjung Morawa, Medan, Deli Tua, Sibolangit dan Bukum. Bersama Nommensen, mereka pun melanjutkan perjalanan melalui Purba, Raya, Pane, Dolok Saribu hingga Onan Runggu.

Zending inkulturatif

      
  Misi Nommensen memang penuh pengorbanan. Tapi, ia tulus. Demi misinya, ia bahkan tak sempat melihat Caroline Gutbrod, yang wafat setelah sebelumnya jatuh sakit dan terpaksa dipulangkan ke Jerman. Nommensen juga banyak menyisakan kenangan, yang barangkali menjadi simbol pengorbanan dan jasanya kelak. Kenangan-kenangan itu ibarat benih, meski sang penabur kelak telah tiada. Barangkali, Gereja Dame adalah salah satu benih itu, yang ketika penulis berkunjung ke sana, tampak kondisiya sudah mulai usang tapi masih berfungsi. Gereja kecil itu adalah gereja yang pertama kali didirikannya ketika menginjakkan kakinya di daerah Silindung, Tarutung.

Lokasinya di Desa Onan Sitahuru Saitni Huta, sekitar 2 kilometer ke arah selatan Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Di gereja ini, Nommensen mulai mengajar umatnya dengan teratur. Selain mengajar Alkitab (termasuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak), ia juga mengajar pertanian serta mulai menyusun tata pelaksanaan ibadah gereja dengan teratur.

 
Onan Sitahuru sendiri, sekitar 1816-1817 merupakan pusat perdagangan terbesar di Tanah Batak karena terdapat sebuah “hariara” (pohon beringin) di sana. Menurut penuturan warga setempat, di pohon inilah Nommensen pernah akan dipersembahkan kepada Dewa Siatas Barita, tapi ia berhasil diselamatkan pembantunya. Pohon berusia 190 tahun itu kini masih dapat ditemui di sana.

Tercatat pula bahwa sejak tahun 1861 telah berdiri gereja-gereja kecil (resort) di Sipirok dan Bunga Bondar atas misi zending sebelumnya. Kemudian atas Nommensen pada 1862 di Parau Sorat, Pangaloan, Sigompulon; 1864 di Pearaja; 1867 di Pansur Napitu; 1870 di Sipoholon, Sibolga, Aek Pasir; 1875 di Simorangkir; 1876 di Bahal Batu; 1881 di Balige; 1882 di Sipahutar, Lintong ni Huta; 1883 di Muara; 1884 di Laguboti, 1888 di Hutabarat, Sipiongot; 1890 di Sigumpar, Narumonda, Parsambilan, Parparean; 1893 di Nainggolan; 1894 di Silaitlait; 1897 di Simanosor Batangtoru; 1898 di Palipi; 1899 di Lumban na Bolon, 1900 di Tampahan, Butar; 1901 di Sitorang; 1902 di Lumban Lobu, Silamosik, Nahornop; 1903 di Paranginan, Pematang Raya; 1904 di Dolok Sanggul; 1905 di Parmonangan, Sipiak; 1906 di Parsoburan; 1907 di Pematang Siantar; 1908 di Sidikalang; 1909 di Bonan Dolok, Tukka; 1910 di Purbasaribu; 1911 di Barus; 1912 di Medan; 1914 di Ambarita dan 1922 di Jakarta.

Sekarang, benih-benih itu telah berbuah dengan lahirnya gereja-gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA, sebagai buah misi zending inkulturatif, yang tidak melupakan keaslian budaya setempat dalam pelaksanaan rutinitas ibadah. Atas jasanya itu, RMG kemudian mengangkat Nommensen menjadai ephorus pada 1881 hingga akhir hayatnya dan digantikan oleh Pendeta Valentine Kessel (1918-1920). Pada 6 Februari 1904, ketika genap berusia 70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa. Namanya lalu ditabalkan untuk dua universitas HKBP yang ada di Medan dan Pematangsiantar yang hingga saat ini masih berdiri.

Kemudian, pada Oktober 1993 dibangun pula Kawasan Wisata Rohani Salib Kasih (KWRSK) di puncak Siatas Barita, di mana ia pertama kali menginjakkan kakinya di Silindung. Salib sepanjang 31 meter terpancang di sana, seakan-akan melukiskan kisah karyanya yang agung.

          Nommensen wafat pada 23 Mei 1918 dan dimakamkan di sisi makam istrinya yang kedua Christine Hander dan putrinya serta missionaris lainnya di Desa Sigumpar, Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Sejak 1891 ia telah tinggal di sana hingga akhir hidupnya. Kemudian pada 29 Juni 1996 Yayasan Pasopar, lembaga yang peduli dengan kelestarian sejarah kekristenan di Tanah Batak, memugar makamnya dan mengabadikannya menjadi “Nommensen Memorial”.

Kini, Nommensen telah tiada tapi karyanya tetap hidup. Ia telah menabur benih-benih cinta kasih sepanjang misinya untuk kita (Batak). Dan, sudahkah kita menuai buah cinta kasihnya itu kini? Semoga…
“Hidup atau mati biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu. Amin”
(Dr. Ingwer Ludwig Nommensen)





Minggu, Desember 05, 2010

PERANG ENAM HARI

Jum'at, Juni 16, 1967
Perang yang Tercepat 
 
     


Timur Tengah
      
Suara sirine bahaya serangan udara melengkik mengejutkan orang2. Ketika mendengar lengkingan pertama, biasanya orang2 sukar mempercayainya. Di Kairo, minggu lalu, suara sirine menembus pasar atau obrolan para wanita berjilbab di sepanjang tepi sungai Nil yang berlumpur. Semalam sebelumnya, Presiden Gamal Abdel Nasser telah mengucapkan selamat datang kepada Irak untuk bergabung bersama sekutu Mesir dan Yordania melawan Israel. Presiden Gamal berkata, “Kami sangat ingin berperang  untuk membangunkan musuh dari mimpinya dan menghadapi ancaman Arab muka dengan muka.” Karena terbiasa dengan kegiatan sehari-hari mereka, masyarakat kota Kairo hanya mendengarkan suara sirine sebentar sebelum kembali melakukan kerjaan mereka. Di Tel Aviv, kota terbesar Israel, reaksi masyarakat juga sama – tapi dengan alasan yang lebih baik. Beberapa hari sebelumnya, Menteri Pertahanan yang baru yang bernama Moshe Dayan, sang “Pahlawan Sinai” bermata satu, berkata bahwa belum tiba saatnya untuk menyerang kekuatan - kekuatan Arab yang berkumpul di sepanjang perbatasan Israel. “Kalau tidak terlalu awal atau terlalu terlambat,” katanya. “Pilihan kita adalah menyerang seketika dan tunggu dan lihat apa hasil diplomasi.” Karena pilihan terbaik adalah menunggu dan melihat, maka ketika terdengar suara sirine, kebanyakan penduduk Tel-Aviv mengira ini hanya latihan belaka. Tapi kali ini bukan latihan. Dalam suatu serangan udara yang mengejutkan di seluruh muka dunia Arab, jet - jet Israel menghancurkan seluruh kekuatan udara militer Arab - dan ini dengan sendirinya memusnahkan kemungkinan tentara Arab untuk menang perang. Tanpa perlindungan udara, tank - tank dan pasukan angkatan darat di bawah langit yang cerah di padang pasir akan jadi sasaran serangan udara yang empuk. Dalam waktu beberapa jam saja, jet - jet Israel meluncurkan bom - bom yang tepat sasaran dan memusnahkan seluruh bantuan jet - jet militer Rusia yang mahal yang disumbangkan selama sepuluh tahun bagi dunia Arab. 



Hampir Tidak Pernah Meleset  

Gelombang pertama serangan udara Israel Mirage 3 muncul di waktu subuh, dan dalam waktu bersamaan mereka menghancurkan empat lapangan terbang di Jazirah Sinai. Di situlah tempat Presiden Nasser dari Mesir menghimpun kekuatan besar untuk melawan Israel sejak sebulan sebelumnya. Sekitar 200 pesawat Nasser yang utama, kebanyakan adalah MIG 21 buatan Rusia, terperangkap dan dihancurkan saat itu juga. Hampir di saat yang sama, jet - jet Israel membom basis militer Arab di Yordania, Syria, dan Irak. Mereka menyerang dari laut untuk membom basis – basis militer Mesir masuk ke dalam daerah Mesir; dan setelah mendarat hanya untuk mengisi bahan bakar, mereka kembali membom sampai 25 lapangan militer Arab yang terutama tertutup asap. Pilot - pilot Israel begitu mahir sehingga mereka hampir tidak pernah meleset menembak sasaran dengan bom, roket, atau peluru. Foto - foto udara serangan menunjukkan begitu banyak pesawat musuh yang hancur dan terbakar – dan hampir tidak ada lubang bekas bom di landasan atau gunungan pasir di sekitar target. Sampai malam Senin, yang adalah akhir hari pertama perang, sekitar 400 pesawat terbang lima Negara - negara Arab telah dimusnahkan. Mesir kehilangan 300, Syria 60, Yordania 35, Irak 15, Lebanon 1. Israel sendiri hanya kehilangan 19 pesawat dan pilot, kebanyakan jatuh oleh tembakan -tembakan dari darat. Begitu banyak pesawat - pesawat terbang Arab terjebak di tempat parkir mereka sendiri, karena pesawat -pesawat itu diparkir berdempetan, ujung sayap satu pesawat mengenai ujung sayap pesawat yang lain. Hal ini membuat pihak Israel dengan mudah menghancurkan semuanya dengan serangan pertama saja. Para negara Arab yang kaget menyatakan hal itu dan pihak Moskow sangat marah. Tapi, seperti yang dikatakan pihak Israel pada mulanya, pesawat - pesawat jet Yahudi hanya menyerang setelah radar peringatan menangkap adanya serangan udara pesawat - pesawat jet Arab yang langsung menuju Israel. Pada waktu yang sama, sejumlah besar tentara Mesir dilaporkan bergerak dari basis militernya di El Arih menuju perbatasan Israel. Ahli sejarah terus berdebat selama bertahun-tahun untuk menentukan siapa sebenarnya yang menembakkan peluru pertama atau menjatuhkan bom pertama. Tapi kemenangan luar biasa Israel has rendered the question largely academic. Sejak Israel berdiri 19 tahun yang lalu, pihak Arab sudah sangat ingin menyerang dan menghancurkannya. Dalam beberapa bulan terakhir sebelumnya, Nasser untuk pertama kalinya berhasil menggalang kekuatan tentara - tentara Arab untuk bersama-sama menghancurkan Israel. Dia menggerakkan 80.000 tentara Mesir dan persenjataannya ke Sinai dan berhenti di batas yang ditentukan PBB yang memisahkan kedua pihak musuh selama sepuluh tahun. Jumlah penduduk Arab 110.000.000 sangatlah besar dibandingkan penduduk Israel yang hanya 2.700.000. Dapat dimengerti jika pihak Israel gelisah ingin segera menarik pelatuk senjata. Ketika Nasser bergerak mendekat Teluk Aqaba, pertempuran sudah jelas tidak dapat dihindari. 

 
Kematian di Zagagig   

Bukan sirine serangan udara tapi justru radiolah yang mengumumkan keadaan perang yang sebenarnya bagi masyarakat di dua belah pihak. Satu jam penuh setelah sirine pertama mengaung dan empat jam setelah penyerangan, Radio Mesir sibuk mengabarkan penyerangan udara Israel, dan memutar lagu2 perjuangan dan pembicaraan militer mulai berlangsung. “Orang2 kita sudah menunggu 20 tahun akan terjadinya perang ini,” kata Kairo, “Sekarang mereka akan menghajar Israel dengan kematian! Tentara Arab akan menyerbu Israel!” Berita2 perang hari pertama penuh salah laporan tentang kemenangan, termasuk kabar 86 pesawat Israel ditembak jatuh. Setiap ada berita gembira baru yang salah, orang2 Kairo yang berkumpul di sekitar radio2 di setiap sudut jalan akan bersorak gembira dan berdansa. Mereka meneriakkan kata2 “Kami akan lawan, kami akan lawan, Nasser yang tercinta; kami berbaris di belakangmu menuju Tel Aviv!” Setiap saat asap hitam ledakan tembakan anti serangan udara terlihat di kejauhan, orang2 mengamati truk2 yang bergerak menuju kejadian, dengan harapan dapat melihat pilot Israel yang tertangkap. Radio Kairo melaporkan bahwa satu pilot yang pesawatnya ditembak jatuh menodongkan pistolnya pada sekelompok fellahin di delta kota Zagagig; kaum fellahin memotong-motong tubuhnya sampai jadi potongan kecil2 dengan kampak2 mereka. Di malam harinya, ribuan sukarelawan muda yang sadar sekarang mereka berkuasa, terjun ke jalanan dan memaksa seluruh kota Kairo jadi gelap gulita. Banyak ledakan semangat terjadi di saat2 pertama perang di ibukota2 negara2 Arab. “Bunuh Yahudi!” teriak Radio Baghdad. Komandan tentara Syria menawarkan ramalan perang kepada pirsawan radio bahwa “kami akan menghancurkan Israel dalam waktu empat hari.” Di Damaskus, sekolah2 ditutup, untuk merayakan kemenangan perang dan bukan untuk berlindung dari serangan udara. Anak2 sekolah bernyanyi sambil mengisi karung2 pasir dan meletakkannya di bangunan2 umum. Karena tidak bersiap membangun tempat perlindungan, orang2 Syria cepat2 mengubah dua buah diskotek. Di Beirut, kain2 berwarna biru, zat pewarna sayur dan cat biru cepat habis karena digunakan untuk menutupi lampu2 mereka. Hotel Phoenicia yang baru dan modern mengecat semua jendela2nya di lima tingkat pertama dengan warna biru sehingga sejumlah tamunya dapat menggunakan lampu saat suasana harus gelap pekat.    



Truk-truk Ice Cream 

Penduduk Tel Aviv mendengar berita hanya 30 menit setelah sirine serangan udara pertama, saat Radio Kol Israel menghentikan siaran biasa dengan pengumuman bahwa pertempuran sengit mulai berlangsung melawan “kekuatan bersenjata dan udara Mesir yang bergerak menyerang Israel.” Lagu2 rakyat Yahudi dan perjuangan Israel, termasuk lagu The Bridge on the River Kwai, memenuhi udara sampai Menteri Pertahanan Moshe Dayan tiba. Pesannya, seperti pria sejati, singkat dan terus terang, dan disarikan sebagai begini: “Tentara2 Pertahanan Israel, pada hari ini kami menggantungkan harapan dan keamanan padamu.” Hanya tiga per empat tentara cadangan Israel yang digerakkan ketika perang terjadi. Sekarang radio menyiarkan kode nama unit2 militer tersebut: Cinta akan Zion, Cukur Pendek, Orang Kerja, Jalur Lain, Jendela Terbuka, Kawan2 Baik. Di seluruh negara kecil mungil itu, para pemuda dan orang2 setengah baya berkumpul di jalanan, sebagian adalah tentara, sebagian adalah mufti, yang memanggul kantung2 dan buntalan2 di pundak mereka sewaktu mereka bergerak ke tempat2 aman naik bus. Bus2 yang biasa dipakai mengantar tentara cadangan ke unit2 militer mereka di medang perang juga diambil dari apa yang ada: truk2 untuk cuci baju, truk2 ice cream, bahkan taxi dan mobil2 pribadi yang bertugas militer darurat sama seperti para pria dan wanita Israel. Semua adalah bagian dari sistem yang sangat teratur dan berfungsi yang diatur oleh Mayor Jendral Dayan antara tahun 1953 dan 1956 ketika dia menjabat sebagai Ketua Angkatan Bersenjata Israel. Setiap tank Israel dikendarai oleh tentara Israel yang seluruhnya berjumlah 50.000 orang. Tank2 itu menunggu di tempat parkir bagi dua atau tiga tentara cadangan yang bersiap mengganti tugas seorang tentara yang bertempur. Tank2 siap maju, lengkap dengan helmet, pisau cukur dan sikat2 gigi. Setiap tentara telah diberitahu sektor2 pertempuran, tempat2 aman, dan sasaran2 perang. Mata2 Israel telah mengincar datangnya tentara musuh Arab di lembah gurun pasir terakhir. Sistem militer Israel bekerja sedemikian baiknya sehingga mampu mengumpulkan kekuatan 235.000 orang dalam waktu 48 jam saja.
 

 
Menjebak Sisa2 Tentara Musuh

Medan perang gurun pasir modern sebenarnya adalah perang antar tank, yang didukung oleh pasukan jalan kaki dan pesawat udara. Di awal perang, baik Israel dan Mesir masing2 punya 1.000 tank. Tank milik Israel kebanyakan buatan Amerika dan Inggris; tank milik Nasser buatan Rusia, sama seperti kebanyakan persenjataannya. Sekitar 800 tank dari masing2 pihak melaju di medan perang di Jazirah Sinai. Di sinilah, sama seperti sewaktu melakukan serangan udara, taktik2 Israel dilakukan melalui serangan mendadak yang cepat. Ini adalah taktik yang sama yang diterapkan Dayan dalam perangnya di tahun 1956 di Sinai yang membuat tentara Arab kocar-kacir jalan kaki ke rumah dalam waktu 100 jam. “Tentara tidak akan diberi waktu untuk mengatur diri kembali setelah diserang, dan penyerangan dilakukan tiada henti,” begitu ditulisnya di Diary of the Sinai Campaign (Catatan Perang Sinai). “Kami mengatur regu2 kekuatan secara terpisah karena setiap regu punya tugas yang berbeda, dan tugas setiap regu adalah berada di medan perang sambil terus berperang, untuk mendorong, lawan dan dorong, lawan dan dorong, sampai tujuan tercapai.” Tujuan utama Israel di Sinai minggu lalu juga sama seperti perang yang mereka lakukan di tahun 1956: untuk mematahkan tulang punggung tentara Arab yang sangat banyak yang berkumpul di perbatasan Israel, lalu menyerang dari Selatan dengan cepat untuk merebut Sharm el Sheikh dari ketinggian untuk menguasai Terusan Tiran, lalu menyerang dari Barat sampai tepi Terusan Suez, menjebak sisa2 tentara2 Mesir. Tiada seorang pun yang mengira perang akan berlangsung secepat itu. Terdengar kabar bahwa dengan bantuan Rusia, Nasser memperbaiki daya kekuatan militernya jadi sangat baik. Selain itu, dia juga punya Catatan Perang Sinai 1956 yang ditulis Dayan yang menjabarkan keterangan rinci yang tepat tentang taktik2 dan strategi perang Israel. Buku itu bahkan mencantumkan kritik terhadap hal yang dulu salah dilakukan oleh tentara Israel dan Mesir. Tapi sudah jelas Nasser tidak membaca buku Dayan itu; dia pun juga tidak belajar buku karangan Santayana yang menyatakan “mereka yang tidak bisa mengingat masa lalu maka akan mengulangi kesalahan yang sama.” Dengan bergerak meluncur di jalan yang sama, menyerang dan mengalahkan posisi2 tentara Mesir yang sama, tentara Israel mengulang kembali hal yang hampir persis sama yang dulu mereka lakukan di tahun 1956 – satu2nya perbedaan adalah kali ini tentara Israel berhasil melaksanakan tugas separuh waktu lebih cepat. Dari Kerem Shalom di sebelah utara sampai El Kuntilla di sebelah selatan, tank2 Centurion milik Israel yang penuh dengan persenjataan, ditambah konvoi tentara darat berseragam warga coklat gurun pasir, menyerang dari Negev ke Sinai di bawah sinar matahari pagi yang terik. Di beberapa tempat, tentara2 Mesir sudah membangun benteng2 di sepanjang perbatasan Israel. Tapi tentara2 Israel bekerja sama satu sama lain untuk mengusir mereka pergi. Ketika tentara2 Israel di darat mendorong tentara Mesir mundur, jet2 Israel beraksi di angkasa sama sekali tak terlawan, dan menjatuhkan bom2 dan roket sesuka hati. Dalam waktu dua hari, tentara Israel berhasil melumpuhkan atau menyita 200 tank milik Nasser dan masuk jauh ke daerah Sinai. Mereka juga menguasai Jalur Gaza tempat di mana persenjataan Mesir disimpan dan terdapat barak2 yang tidak terurus yang dihuni Palestinian Liberation Army (Tentara Kemerdekaan Palestina) yang buas. Tentara2 Israel tidak membuang waktu menghabisi tentara2 dan teroris2 Arab terkuat, lalu memenjarakan mereka di gurun pasir Negev.


 
Tutup Mata Hathaway 


Untuk peperangan ini, Moshe Dayan khusus dilantik jadi Menteri Pertahanan Israel. Dia menjabat kedudukan ini selama enam hari setelah dilantik PM Levi Eshkol. Keduanya sebenarnya menganggap pelantikan resmi itu tidak perlu diadakan. Negara Israel sedang berjuang untuk kelangsungan hidupnya, dan jenderal bermata satu itu sudah jelas merupakan pilihan utama dan satu2nya bagi Israel. Dayan adalah Israel itu sendiri. Dia lahir pada tanggal 20 Mei, 1915, di saat kibbutz (daerah penduduk) pertama Yahudi didirikan di Palestina. Ketika berusia tujuh tahun, orangtuanya yang berimigrasi dari Rusia pindah ke moshav, tempat pertanian di sana. Tidak seperti sebuah kibbutz, anggota masyarakat bisa memiliki tanah sendiri di moshav. Moshe suka bertani dan baca buku, tapi tak lama kemudian dia mempelajari teknik perang pula. Tentara Inggris memenjarakannya di tahun 1939 karena dia ikut perkumpulan tentara Yahudi bawah tanah bernama Haganah. Dia dibebaskan dua tahun kemudian untuk bekerja sebagai pandu tentara2 Australia melawan tentara Perancis Vichy di Syria. Di saat tembak2an berlangsung, sebuah peluru menerpa kacamatanya ke samping kiri wajahnya dan merusakkan sebuah matanya. Sejak itu dia menutup mata rusak itu dengan tutup mata hitam gaya Hathaway. Meskipun telah terluka, Dayan tetap kembali ke medan perang, memimpin tentara2 Haganah di tahun 1948. Tak lama kemudian, dia memimpin tentara bagian depan Yerusalem dalam pertempuran pertama Israel melawan tentara Arab. Di tahun 1953, dia menjabat sebagai komandan Angkatan Bersenjata, dan dia mengajarkan tentara Israel filosofi perangnya yang tanpa kompromi – serangan kilat yang dilakukan dengan tiba2 dan malam hari – teknik inilah yang membuatnya menang di tahun 1956 dan juga minggu lalu (akhir Perang Enam Hari). Hanya setahun kemudian, dia pensiun untuk belajar tentang politik. Dia bergabung dalam Kabinet Ben-Gurion sebagai Menteri Pertanian. Di bidang ini pun dia terbukti tangguh sama seperti di bidang militer. Meskipun mendapat perlawanan hebat, dia membubarkan perkumpulan pemasok susu sapi yang besar, karena dianggapnya tidak beroperasi bagi keperluan negara yang terbaik. Karirnya semakin menanjak. Tapi kemudian Ben-Gurion mengundurkan diri dan meninggalkan partai Mapai yang berkuasa. Dayan pun mengikuti langkahnya. Dia jadi anggota Knesset dari partai Rafi yang merupakan pecahan partai yang dulu dipimpin Ben-Gurion. Moshe Dayan adalah orang yang sangat berdikari, terus terang dalam mengeluarkan pendapat, dan dia mencapai sukses dalam pekerjaan apapun yang dicobanya. Tapi jabatannya di bidang pertanian adalah yang paling disukainya. Karena adanya perang, dia lalu mengenakan kembali seragam militernya dengan penuh percaya diri. Jika ada yang dikeluhkannya, itu adalah tugas2 administratif di atas meja kantornya sebagai Menteri Pertahanan yang membuatnya tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan tentara2nya. Terlalu banyak surat2 administratif yang harus dikerjakannya di bunker komandan di Yerusalem. Meskipun begitu, setidaknya sehari sekali dia akan naik kendaraan atau terbang dengan helikopter untuk memeriksa keadaan perang. Dia ingin melihat sendiri bahwa semua aspek perang dilaksanakan dengan benar. Saat ini, Israel sudah masuk jauh ke dataran Sinai.





Jendela2 yang Lebih Indah  

   
Pada jam 11 siang di hari pertama perang, atas permintaan tolong dari Nasser, Yordania membuka medan perang kedua. Tembakan2 mortir dan peluru2 dilancarkan dari ketinggian2 Yerusalem Arab untuk mengacaukan daerah Yerusalem yang dikuasai Israel. Senjata2 jarak jauh berhasil melontarkan peluru sampai masuk ke tengah2 kota Tel Aviv. Senjata2 Syria juga menembaki bagian utara kota2 Israel yang terbuka dari bukit2 dekat Laut Galilea. Tapi kota Yerusalemlah yang paling rusak karena serangan Arab. Selama dua hari penuh penduduk kota dihujani tembakan2 tanpa henti dan mereka berlindung di barak2 bawah tanah. Meskipun kebanyakan sudah berlindung, tetap saja 500 orang tewas dan terluka akibat serangan Yordania. Tiada kota Israel yang tidak diserang. Bom2 hampir menerjang rumah PM Eshkol dan taman Hotel Raja Daud. Jendela2 kaca Museum Israel pecah berantakan, dan naskah Nabi Yesaya, yang adalah naskah terlengkap dari Naskah2 Lau Mati, cepat2 diamankan ke ruangan bawah tanah. Kebanyakan jendela2 kaca berhiaskan karya seni buatan Chagall di sinagog Pusat Medis Hadassah diturunkan, tapi sebuah jendela keburu hancur. Ini surat yang ditulis Chaggal dari Perancis: “Aku tidak khawatir akan jendela2 itu, tapi aku hanya khawatir akan nasib Israel. Jika Israel sudah aman, akan kubuat jendela2 baru yang lebih indah bagimu.” Sewaktu petang hari tiba di bukit2 Yudea, tentara2 Israel bergerak menjawab serangan. Jet2 Israel buatan Perancis yang dijuluki Bintang Daud yang warna sayapnya dalah biru putih, menyerbu posisi Yordania di kota Yerusalem dan menghujaninya dengan bom2 spektakuler yang membuat langit jadi lautan merah karena api. Dua kelompok pasukan bersenjata Israel ke luar dan mengitari kota tua Yerusalem. Di dalam tembok2 kuno inilah terdapat tempat2 suci bagi tiga agama besar, dan tentara2 Israel berhati-hati untuk tidak merusak tempat2 itu. Pasukan Israel dari sebelah utara bergerak menuju Gunung Skopus. Pasukan Israel selatan menyerang daerah selatan, bergerak dari bukit ke bukit dengan cepatnya, mengalahkan perlawanan sengit Angkatan Bersenjata Yordania, sampai seluruh kota Yerusalem berhasil dikelilingi. Di malam berikutnya, komandan2 Israel mempersiapkan serangan subuh dalam kota Yerusalem. Tapi kebanyakan tentara Yordania yang berada di situ sudah melarikan diri, yang tinggal hanya seorang penembak jauh ketika sebuah kelompok tentara Israel masuk melalui pintu gerbang Stefan dan kelompok kedua masuk melalui pintu gerbang Damaskus. Pada jam 10 siang, tentara Israel yang menang berdiri di depan Tembok2 Ratapan, yang merupakan satu2nya tembok yang tersisa dari Bait Allah kedua, dan tembok ini selama 1.897 tahun telah menjadi lambang harapan dan derita Yahudi. Dari semua kemenangan tentara Israel, tiada yang lebih berarti daripada menguasai kembali kota suci Alkitab yakni Yerusalem. Kemenangan ini jauh lebih berarti daripada menguasai banyak daerah Sinai. Kata pemimpin pasukan yang menguasai Yerusalem di dekat Tembok Ratapan: “Tiada seorang pun dari kita yang telah melihat dan melakukan hal yang begitu besar seperti yang telah kita lakukan hari ini.” Dan dekat tembok itu, dia menjatuhkan diri dan menangis. 



Catatan Menarik   

Satu per satu, kota2 lain yang tertulis dalam Alkitab jatuh ke tangan Israel: Yerikho, Hebron, Betlehem. Penyerangan terus dilakukan sampai tentara Israel menguasai seluruh daerah barat Sungai Yordania yang dulu dikuasai kerajaan Raja Hussein dan juga Laut Mati. Tidak seperti saudara2 mereka yakni tentara Mesir di Sinai, tentara2 Raja Hussein berperang dengan penuh tekad dan disiplin tinggi. Tapi sama seperti di Sinai, di sinipun tentara2 Israel yang jauh lebih unggul di udara mengakibatkan kekalahan telak pasukan Arab. Sepanjang hari jet2 Israel menukik tajam untuk menjatuhkan bom2 dan selongsong2 napalm pada kesatuan militer Yordania yang bertahan sengit. Karena tidak tahu akan kekalahan tentara Mesir, maka Hussein sukar percaya bahwa pasukan Israel sendiri saja dapat membuat langit di atas daerah depan Yordania begitu hitam pekat. Karenanya dapat dimengerti bahwa sama seperti yang dikatakan Nasser bahwa pesawat2 tempur A.S. dan Inggris telah datang membantu pesawat2 Israel. Nasser tentunya jauh lebih tahu. Tapi dia terdesak berat untuk cari alasan kekalahan telak Arab. Tampaknya dia berharap dengan masuknya tentara A.S. dan Inggris, maka Moskow pun akan datang menolongnya. Tapi tiada harapan bagi Nasser. Pesawat2 Rusia yang memonitor gerakan2 udara A.S. di Timur Tengah tahu bahwa radar mereka tidak menunjukkan bukti apapun bahwa pesawat2 A.S. dan Inggris terlibat perang. Duta Besar Rusia di Kairo mendatangi Nasser dan dengan jelas mengatakannya begitu. Karena sudah kepalang basah, maka Nasser pun terus saja berbohong besar, dan ini mengakibatkan pecahnya hubungan diplomasi ketujuh negara2 Arab dengan A.S. dan mengakibatkan demonstrasi2 di kedubes2 A.S. dan Inggris di seluruh dunia Arab. Bagaimana Nasser mendesak Hussein untuk mendukung kisah bohongnya lewat telpon telah menjadi satu catatan sejarah yang menarik. Israel memonitor dan merekam percakapan radio antara Nasser dan Hussein di hari kedua perang, dan menyiarkan percakapan ini dua hari kemudian. Suara yang terekam sudah jelas milik Nasser dan Hussein; tidak perlu disangkal lagi. Ini contoh percakapan mereka:   Nasser           : “Hello,apakah kita akan katakan A.S. dan Inggris atau hanya A.S.”? Hussein        : “A.S. dan Inggris”  Nasser           : “Apakah Inggris punya kapal induk”? Hussein        : (jawabannya tidak jelas)  Nasser           : “Demi Tuhan, kukatakan aku akan membuat pengumuman dan kau juga membuat pengumuman dan kita akan lihat pula bahwa Syria akan membuat pengumuman bahwa pesawat2 Amerika dan Inggris mengambil bagian menyerang kita dari kapal2 induk mereka. Kita akan tekankan hal ini, dan kita sampaikan hal ini di negara2 kita”. Tapi setelah itu, Hussein akhirnya mengakuti bahwa “payung gelap besar” yang menutupi Yordania ternyata hasil dari pesawat2 Israel saja. Akan tetapi Nasser, tetap bersiteguh dengan kisah karangannya sampai di hari matinya. Dia tetap mengatakan “pesawat2 berjumlah tiga kali lebih banyak” daripada yang dimiiliki Israel dan menyerang kekuatan militer Arab.  



Tentara-tentara yang Kecewa 

Di sebelah selatan Israel, tentara2 Nasser menghadapi kesulitan untuk terus bertempur. Di saat malam Rabu, yang merupakan hari ketiga perang, semua tentara Israel sudah merasakan kemenangan yang bakal terjadi. Bawahan Dayan yang menjabat sebagai Komandan Angkatan Bersenjata yakni Yitzhak Rabin menyarikan hal ini secara tepat: “Kita telah menghancurkan hampir seluruh kekuatan tentara Mesir, memberikan pukulan telak pada pasukan Yordania, menguasai daerah2 penting Jazirah Sinai dan Tepi Barat Yordania, dan kita telah hancurkan hampir seluruh kekuatan angkatan udara keempat negara Arab.” Para pasukan terjun payung Israel yang masih muda dengan penuh semangat bersiap untuk terjun ke atas Sharm el Sheikh, tapi mereka diberitahu bahwa pasukan angkatan laut telah tiba terlebih dahulu dan pasukan Mesir sudah melarikan diri. Pasukan terjun payung yang kecewa diterjunkan bagaikan turis2 pendatang di daerah perbatasan Mesir yang telah ditinggalkan. Keesokan hari, tentara2 Israel telah menguasai Tepi Barat Terusan Suez. Yordania mundur dan menerima keputusan gencatan senjata PBB yang telah diajukan Moskow dengan susah payah selama tiga hari untuk menyelamatkan negara2 Arab dari kehancuran total. Tentara2 tank Mesir bertempur di medan terakhir di Suez sebagai usaha panik untuk membuka jalur mengundurkan diri bagi 80.000 tentaranya di Sinai. Tapi mereka pun akhirnya setuju untuk meletakkan senjata. Beberapa jam kemudian, Syria pun melakukan hal yang sama. Tapi ternyata Syria tidak sepenuhnya melakukan gencatan senjata. Yang terjadi kemudian adalah baik Israel dan Syria mengaku pihak lawan melanggar gencatan senjata. Israel dengan marah berpaling ke Syria telah melakukan serangan2 teror dan dulu membujuk Nasser untuk berperang. Meskipun dataran Syria berbukit-bukit, tapi tentara Israel berhasil memukul mundur tentara Syria sampai 15 mil dari perbatasan Syria. Tank2 dan pesawat2 terbang Israel bertempur total sampai daerah2 sekitar Damaskus.  



Versi Bahasa Ibrani 

Kairo menerima berita gencatan senjata dengan rasa kaget dan bisu seribu bahasa. Sejumlah polisi cadangan bersiap-siap di tempat2 penting, tapi tiada seorangpun yang ingin berdemonstrasi. Polisi bergerak bebas di jalanan kosong dan mencopoti slogan2 dan bendera2 anti Israel yang dipajang di kota ketika Nasser mengumpulkan kekuatan militer bulan lalu. Dari semua sekutu Arab, hanya Aljeria saja yang bersumpah untuk terus berperang. Ini tentunya karena Aljeria belum berperang sama sekali dan letaknya jauh dari serangan maut Israel. Sebelumnya, Aljeria telah mengirim 36 jet MIG kepada Nasser, tapi bantuan itu sangat terlambat. Suasana di Tel Aviv sangatlah berbeda. Tiba2 saja kota itu dipenuhi bendera2 biru dan putih, yang melambai di tiang2 tinggi, yang dijatuhkan dari pesawat2 dan mendarat di halaman2 dan membuat lautan warna yang berkilau. Pantai2 dipenuhi orang2 yang merayakan kemenangn; tentara2 yang membersihkan debu gurun pasir di sepatu bootnya. Konser2 musik dan pelayaran perahu2 turis kembali dilaksanakan sesuai jadwal mula. Pintu gerbang Yerusalem bernama Mandelbaum yang tadinya merupakan gerbang suram ke daerah tak bertuan, sekarang menjadi jalur persimpangan bagi Yahudi2 relijius yang bertopi dan bermantel panjang hitam yang berkumpul untuk menyoraki setiap kendaraan Israel yang ke luar dari Yerusalem. Jawatan bus kota Israel yang masih diliputi perasan sentimental mengoperasikan bus nomer 9 ke Mount Scopus; mereka telah menyimpan nomer itu bagi jalur istimewa yang terakhir dilalui pada tahun 1948. Walikota Yerusalem Teddy Kolleck rapat bersama para pejabat kota untuk menyetujui pengeluaran dana sebesar $50 juta untuk “membangun kembali kota abadi Yerusalem.” Sama seperti Dayan dan Eshkol dan setiap orang Israel yang bisa datang, Ben-Gurioun juga datang menjenguk Tembok Ratapan. “Inilah adalah saat terbesar dalam hidupku,” katanya, lalu mukanya berkerut karena melihat nama Yordania di tembok ditulis dalam bahasa Inggris dan Arab. Dia minta tentara menurunkan nama itu dan menggantinya dengan bahasa Ibrani.



Tiada Ijin Membantu 

Meskipun awalnya tujuan perang bagi Eshkol bukanlah untuk memperluas kekuasan, tapi hasil kemenangan Israel telah mengubah tujuan awal. Dayan sendiri berkata di kota tua Yerusalem: “Kami telah kembali ke tempat tersuci kami, dan tidak akan pernah meninggalkannya.” Dia juga tidak perlu menerangkan bahwa Israel tidak akan membiarkan Sharm el Sheikh kembali jatuh ke tangan2 Arab untuk memungkinkan penyerangan baru Arab dari Selat Aqaba. Sudah jelas pula bahwa dengan merebut daerah Galilea sepenuhnya dari tangan Syria maka Arab tidak dapat mengancam menutup suplai air dari Yordania. Dengan menguasai daerah barat Terusan Suez, kapal2 Israel dapat berlabuh bebas dan jalur ini dulu ditutup oleh Nasser sejak tahun 1956. Kemenangan yang dicapai terjadi sangat cepat sehingga bahkan Dayan dan pembantu2nya kaget (“Kukira perang akan masih berlangsung satu atau dua hari lagi,” kata Kepala Angkatan Bersenjata Rabin). Awalnya pihak Israel tidak yakin apa yang harus dilakukan terhadap daerah2 yang dirampas. Mereka memang tidak punya waktu menghitung hasil perang mereka atau menghitung kekalahan Arab. Tidak dapat dipastikan dengan tepat berapa banyak yang mati, tapi perang beberapa hari di padang pasir ini memakan korban lebih banyak dari setahun perang di Vietnam. Para sejarawan menghabiskan banyak waktu menghitung hancurnya harga diri dan semangat bangsa2 Arab, belum lagi rasa malu luar biasa yang diderita Rusia yang berdiri ternganga tak berdaya melihat bantuan militernya yang mahal bagi Arab dihancurkan berkeping-keping sampai jadi debu oleh Israel. Dari benda2 perang yang berhasil disita terdapat misil2 SAM buatan Rusia. Satu hal yang jelas adalah untuk beberapa saat, Israel menjadi kekuatan militer mutlak di Timur Tengah. Israel tidak perlu diperintah siapapun, dapat menentukan tujuan dan keinginan negaranya, terlepas dari tekanan PBB dan Arab yang tidak mampu berbuat apapun. Apakah yang membuat Israel menang sedemikian besar sedemikian cepat? Jawabn utama dapat dilihat dari rencana perang, koordinasi, dan komunikasi militer Arab yang berantakan. Sejak dikalahkan Israel dengan cepat di tahun 1956, negara2 Arab berharap perang baru akan berlangsung lama. Meskipun dua skuadron MIG-21 dari Aljeria datang membantu, tapi mereka terlambat 24 jam karena komandan2 tempur Mesir gagal memberi keterangan di lapangan udara mana mereka harus menuju. Sebenarnya, nasib mereka akan lebih buruk jika tiba di saat jet2 Israel menyerang. Lima pasukan angkatan udara Maroko tiba di Kairo, tapi lima lainnya terhenti di Lybia karena Mesir belum memberi ijin masuk daerah Mesir. Lebih dari 100 truk Aljeria penuh pasukan menyeberangi selatan Tunisia menuju Sinai, yang sudah lama terlebih dahulu ditaklukkan Israel sebelum mereka datang. Tentara Tunisia yang sudah siap maju berperang bagi Nasser ternyata juga tidak pernah dapat panggilan dari Kairo.  



Bait Allah Ketiga

Meskipun hancurnya angkatan udara Arab berperan besar dalam hasil perang, penampilan tentara Arab di medan perang juga sangat jelek. Pelatih2 militer Rusia mereka ternyata bukan orang2 ahli dan lebih jago bicara daripada pegang senjata. Dari seluruh tentara2 Arab, hanya tentara Yordania saja yang mampu berperang dan mereka pun banyak yang tewas. Hussein menyebut 15.000 tentara Yordania yang mati sebagai “kehilangan besar.” Lebanon tidak menembakkan sebuah peluru pun pada Israel dalam seluruh kejadian perang. Tentara Lebanon yang berjaga-jaga di perbatasan malahan bermain backgammon (mirip catur) dan menonton tentara Syria dan Israel saling menembak. Meskipun tadinya ribut berteriak-teriak, ternyata tentara angkatan darat Syria tidak bisa banyak membantu tentara Yordania dan Mesir. Beberapa pilot Arab sempat melepaskan beberapa tembakan untuk menunjukkan kemampuan mereka; tapi kemampuan mereka tidak sebanding dengan pilot2 Israel. Pilot2 Israel menembak jatuh 20 pesawat dan pilot Arab dan mereka hanya kehilangan tiga pesawat. Komunikasi Arab di medan perang begitu jelek sehingga tak lama kemudian Mesir mengurangi mengirim pesan kepada tentara2nya di Sinai melalui Radio Kairo. Akibatnya, komandan2 tempur Arab tidak bisa kontak berita dua arah dengan seluruh pasukan mereka. Dari segala faktor di atas, kesimpulan akhir menunjukkan bahwa kemampuan militer Israel yang luar biasa, taktik dan waktu mereka yang tepat, profesionalisme dalam kemampuan bela diri mereka yang membuat Arab kalah telak merupakan pelajaran klasik yang layak dipelajari dengan rasa kagum oleh seluruh pendidikan militer di seluruh dunia. Selain hal itu, hal utama lainnya adalah dedikasi bela diri Yahudi yang ditempa ribuan tahun penjajahan dan penindasan dan juga tekad mereka yang begitu teguh agar Israel mampu selamat sebagai negara mandiri. “Setiap orang Israel berperang bagi kesatuan kasih, iman, dan negara,” kata Moshe Dayan di akhir minggu. “Jika boleh kukatakan, kami merasa kami berperang untuk mencegah jatuhnya Bait Allah yang ketiga.” 


Tokoh Perang Enam Hari: 

Jendral Moshe Dayan - Menteri Pertahanan Israel   
Presiden Mesir Gammal Abdel Nasser
Raja Hussein dari Yordania .

Selasa, November 30, 2010

Renunganku


Renungkanlah:

            Tuhan mampu membuatku tersenyum
disaat ku sedih...

Tuhan mampu merubah segala sesuatu
yang sudah kuanggap tak mungkin lagi
menjadi mungkin...

Tuhan mampu membuatku tenang
Disaat hatiku kecewa...

Tuhan mampu menata hati yang terluka
Disaat banyak orang yang menyakiti...

Tanpa ku sadari..
Tuhan s’lalu hadir disetiap saat dan waktu
Meski pun aku kadang melupakan-Nya..

Jumat, November 26, 2010

Gambar Unik-Aneh-Lucu

Ini ada beberapa Gambar unik,aneh dan lucu menurut saya.




Gambar 1

 Gambar 2
 Gambar 3

 Gambar 4

 Gambar 5


 Gambar 6
hahaha...

Senin, November 22, 2010

Minggu, November 14, 2010

Si Anak Hilang Pulang

 
Si Anak Hilang Pulang

Aku sudah berjalan ratusan kali ke gereja. Tetapi kali ini berbeda. Aku ingat menaiki tangga, berjabat tanggan dengan penyambut jemaat, dan kemudian melihat berkeliling untuk memutuskan dimana aku ingin duduk. Semuanya cukup normal. Namun kemudian, aku mulai menangis. Hal yang sama terjadi lagi minggu berikutnya, dan minggu berikutnya lagi.
            Aku terkejut dengan reaksiku karena aku jarang menangis. Apa yang terjadi? Aku cukup yakin bahwa aku menangis karena baru saja memperbarui komitmen kepada Tuhan setelah bertahun-tahun tidak menganggap serius imanku.
            Seperti banyak orang, aku membiarkan imanku menjadi bagian yang jamak, bahkan kurang penting, dalam hidupku. Ya, aku percaya akan Allah, tetapi aku jarang memikirkan-Nya. Aku menjalani hidup yang sibuk, dan Allah hanyalah bagian –sayangnya, bagian terkecil- dari hidupku. Aku menangis karena aku telah pulang kepada Allah, yang menerimaku meskipun aku sudah lama sekali mengabaikan hubungan kami. Aku menangis karena menyadari dari lubuk hati yang terdalam bahwa hubungan dengan Allah sangat penting, bagian utama dari siapa aku dan siapa aku menurut rancangan Allah.

*Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukacita. Luk.15:24

Doa: Bapa terkasih, terima kasih karena Engkau telah menerima kami kembali ketika pulang kepada-Mu. Bawalah kami mendekat kepada-Mu.Amin




James Davidson [Quebec, Kanada]

SEMANGAT MELEMBEK MACAM MIE INSTAN DIGUYUR AIR PANAS


SEMANGAT MELEMBEK
MACAM MIE INSTAN DIGUYUR AIR PANAS


Siapakah orang Indonesia yang belum pernah menikmati Indomie? Kecuali Sudono Salim pemilik usaha itu mungkin, hampir semuanya pernah menikmati makanan ringan cepat saji ini. Begitu populernya makanan murah meriah tersebut makan mie merk lain pun menyebutnya pasti Indomie. Tercatat, setiap tahunnya orang Indonesia mengkonsumsi 15 milyar bungkus mie dengan berbagai merk.
            Mie cepat saji masuk Indonesia kali pertama tahun 1971, dengan nama Supermie. Indomie baru masuk pasar tahun 1981, dengan pemilik usaha tetap Sudono Salim, teman Pak Harto sejak keduanya belum jadi apa-apa. Karena kita sudah begitu lama akrab dengan mie instant, demi mendengar kabar bahwa Indomie di Taiwan di razia lantaran mengandung zat kimia nipagin, kita pun tersentak. Tapi Bu Menkes Endang Sedyaningsih menjamin bahwa mie di Indonesia aman, karena kita menggunakan zat itu jauh di bawah yang di anjurkan International Codex Alumentarius Commision (ICAC).
            Buat apa kita panik, toh sudah kadung masuk perut. Yang jelas, begitu seringnya kita mengkonsumsi mie instan, jiwa dan mental bangsa ini terpengaruh karenanya. Semangat dan mental kita jadi mudah lembek, seperti mie instan yang diguyur air panas. Jadi pemimpin dan politisi pun, suka ngomong mbulet (melingkar-lingkar) macam mie instan itu sendiri. Pemuda kita, selalu merenge-rengek minta pekerjaan pada negara, tak mampu menciptakan kerja.
            Masih jelas dalam ingatan kita, saat kampanye Pilpres pada 2009 lalu, Partai Demokrat dengan bangga mengadopsi lagu promosi Indomie untuk menjaring pemilih. Kata ”indomie seleraku” diganti menjadi ”SBY presidenku”. Apa yang terjadisetelah kemenangan diraihnya? Presiden kita ikut-ikutan lembek ketika menghadapi Malaysia. Terakhir, ketika mau ke Belanda, digrecokin RMS saja tak jadi berangkat.

Kamis, November 11, 2010

TEMBAK DI TEMPAT APA TEMBAK DI KAKI?


TEMBAK DI TEMPAT APA TEMBAK DI KAKI?
          “Saya tidak setuju tembak di tempat. Saya setuju tembak di kaki saja, atau kalau perlu tembak di kepala,” kata Semprul.
            Lho-lho-lho... ngomong apa ini, Semprul? Oh, dia sedang bicara soal Protap Kapolri Nomor 1/X/2010 yang di keluarkan 8 Oktober lalu. Protap tentang penanggulangan tindak anarki ini menimbulkan kontroversi.
            Apa pun komentar banyak orang, Polri merasa bahwa prosedur tetap itu sebagai sebuah kebutuhan. Seperti dikemukakan  Kabid Penum Mabes Polri, Kombes Pol Marwoto, Protap itu dikeluarkan karena selama ini banyak aksi massa yang cenderung anarkis namun Polisi tidak bisa berbuat apa-apa.
            Ada yang bilang, Protap itu makin memperlihatkan bahwa Polisi tak mau peduli lagi soal HAM. Lewat Protap ini, Polisi dinilai membuka pintu pelanggaran HAM. Tapi, ini dibantah oleh Kabiro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Ketut Untung Yoga. “Protap yang kami buat itu tentang penanggulangan anarki, bukan tembak ditempat,”katanya.
            Terkait dengan itu,menurut Yoga, memang ada kriteria tertentu yang menentukan Polisi boleh mengambil tindakan tegas jika terjadi kemungkinan ancaman yang menyebabkan kematian orang lain atau luka berat yang sangat dekat, agar kejahatan itu tidak menjadi peristiwa yang lebih serius.
            Jadi, wahai para pendemo, jika Anda melakukan aksi secara damai, tidak anarkis, maka Anda tidak perlu was-was terhadap tindakan tegas Kepolisian. Kalau sudah anarkis, menimbulkan kerusuhan, apalagi sampai menimbulkan kematian seperti demo para preman di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tempo hari, mungkin benar kata semprul: ”Saya tidak setuju tembak di tempat. Saya setuju tembak di kaki atau kalau perlu tembak di kepala.” 

Minggu, September 12, 2010

Chang Shen


Chang Shen
Dikenal juga Si Buta Chang
           
            Dari seluruh martir China, tak seorangpun meninggal dengan keberanian yang lebih dari pada si Buta Chang, penginjil yang paling terkenal di Manchuria, tanah air pemerintahan Manchu di China.
            Chang Shen bertobat setelah dipukul sampai buta saat berusia pertengahan. Sebelum bertobat, ia dikenal dengan sebutan “wu so pu wei te,” yang berarti, “seseorang tanpa unsur kebaikan dalam dirinya.”  Sebagai seoran penjudi, hidung belang, dan pencuri, ia mengusir istri dan anak perempuannya dari rumah. Ia pernah dipukuli sampai buta, tetangga-tetangganya mengatakan bahwa itu hukuman  dari dewa karena perbuatan jahatnya.
            Suatu saat Chang mendengar ada sebuah rumah sakit misionaris dimana orang-orang dapat melihat kembali. Pada tahun 1886, ia pergi ratusan kilometer untuk mendatangi rumah sakit tersebut. Namun saat mencapai tempat itu ia diberitahu bahwa semua tempat tidur sudah penuh. Seorang penginjil rimah sakit merasa kasihan kepadanya dan memberikan tempat tidurnya untuk Chang. Penglihatan Chang sebagian mulai pulih, dan ia mendengar tentang Kristus untuk pertama kalinya. ”Kami tidak pernah memiliki pasien yang menerima Injil dengan penuh sukacita seperti dirinya,” lapor seorang dokter.
            Saat Chang minta dibaptis, misonaris James Webster menjawab, “Pulanglah ke rumah dan katakana kepada tetangga-tetanggamu bahwa kamu telah berubah. Saya akan mengunjungi kamu kemudian dan jika kamu masih mengikuti Yesus maka saya akan membaptis kamu.”
            Lima bulan kemudian Webster tiba di daerah Chang, ratusan orang datang menjumpainya dan menanyainya. Kemudian ia membaptis penginjil baru tersebutdengan sukacita besar.
            Suatu saat seorang dokter, penduduk asli sana, ceroboh dan merusakan pengelihatan Changyang telah dipulihkan oleh para misionaris. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah. Chang melanjutkan perjalanannya dari desa ke desa, memenangkan ratusan lebih jiwa, dan memuji Tuhan saat dikutuki dan dicaci maki. Ia belajar secara praktisseluruh Perjanjian Baru dengan menghafalnya dan dapat mengutip seluruh bab dari Perjanjian Lama. Para misionaris mengikutinya, membaptis para petobat dan mendirikangereja-gereja.
            Saat pemberontakan Boxer meledak, Chang sedang berkhotbah di Tsengkouw, Manchuria. Orang-orang Kristen merasa yakin bahwa ia akan menjadi salah satu sasaran dan melindunginya di sebuah gua di pegunungan.
            Saat kelompok Boxer mencapai daerah dekat kota Chiao yangshan, mereka mengumpulkan sekitar Lima puluh orang Kristen untuk dieksekusi. Namun seorang penduduk berkata kepada kelompok tersebut. ”Kalian bodoh membunuh semua orang itu. Karena setiap orang yang kamu bunuh, akan tumbuh sepuluh orang lagijika Chang Shen masih hidup. Bunuhlah dia dan kalian akan dapat menghancurkan agama asing itu.” Kelompok Boxer berjanji mengasihani mereka jikaseseorang mau membawa merekakepada Chang. Namun tak seorangpun bersedia. Saat kelompok tersebut mau membunuh oran-orang Kristen tersebut, seseorang menyelinap pergi dan menemui Changuntuk mengatakannya    apa yang sedang terjadi. ”Saya akan dengan senang hati mati untuk mereka,” Chang menawarkan. ”Bawa saya kesana.”
            Saat Chang tiba, para pemimpin Boxer sedang berada di kota lain. Namun dia tetap diikat oleh seorang pejabat berwenag setempat, dibawa ke sebuah kuil, dan di perintahkan untuk menyembah.
            Ia menyatakan, ”Saya hanya dapat menyembah Tuhan yang benar dan hidup”
            ”Maka bertobatlah,” teriak mereka.
            ”Saya sudah bertobat bertahun-tahun yang lalu.” jawab Chang.
            ”Kamu setidaknya harus membungkuk kepada dewa,” teriak mereka lagi.
            ”Tidak. Hadapkan wajah saya pada matahari.” Chang tahu bahwa saat itu matahari menyinari kuil itu dan punggungnya membelakangi berhala-hala tersebut. Saat mereka membalikkannya, dia berlutut dan menyembah Tuhan yang tertulis dalam Alkitab.  
            Tiga hari kemudian para pemimpin Boxer tiba. Penginjil buta ini diletakkan disebua gerobak terbuka dan dibawa ke pekuburan di luar tembok kota. Saat melewati kerumunan orang banyak, ia menyanyikan sebuah lagu yang dipelajarinya di rumah sakit:

Yesus mengasihi saya, Dia akan berada dekat
Dengan saya sepanjang jalan;
Jika saya mengasihi-Nya, saat saya meninggal,
Dia akan membawa saya pulang ke rumah
Di tempat yang tinggi.

            Saat mereka tiba di pekuburan tersebut, ia didorong untuk berlutut. Ia berteriak tiga kali, ”Bapa di Surga, terimalah rohku.” Kemudian sebuah pedang diayunkan ke lehernya, dan kepalanya menggelinding ke tanah.
            Karena takut akibat adanya berita bahwa si Buta Chang akan bangkit dari kematian, kelompok Boxer memaksa para pemercaya untuk membeli minyak dan membakar tubuhnya. Sekalipun demikian, kelompok Boxer itu ketakutan dan melarikan diri karena mereka percaya bahwa roh Chang akan melampiaskan pembalasan. Dengan demikian orang-orang Kristen setempat terhindar dari penaniayaan.